Tampilkan postingan dengan label bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2011

Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk


Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk - Apa definisi kalimat Tunggal ? Apa definisi kalimat Majemuk? dan apa perbedaan diantara keduanya? dalam artikel kita kali ini kita akan membahas tentang kalimat Tunggal dan kalimat majemuk, disertai dengan contoh contohnya.

Berdasarkan banyaknya klausa, kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat tunggal dan kalimat majemuk.

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti dan boleh diperluas dengan satu atau lebih unsur-unsur tambahan, asal unsur-unsur tambahan itu tidak boleh membentuk pola baru. Kalimat tunggal, misalnya kalimat inti, kalimat luas, kalimat verbal, kalimat nominal, dan kalimat tidak lengkap. ( definisi kalimat tunggal )

Contoh:
1. Rista menggambar.
�� Kalimat inti
2. Rista menggambar bunga teratai.
�� Kalimat luas
3. Ayamnya lima ekor.
�� Kalimat nominal

Selain kalimat tunggal, kita juga mengenal adanya kalimat majemuk. Kalimat majemuk adalah penggabungan dua kalimat tunggal atau lebih, sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih klausa. Hubungan antarklausa tersebut ditandai dengan kata hubung (konjungsi). ( definisi kalimat majemuk )

Kalimat majemuk dibedakan atas tiga macam. ( Jenis jenis kalimat majemuk )

1. Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara yaitu penggabungan dua kalimat tunggal dan tiap-tiap unsur-unsurnya mempunyai kedudukan setara.
Contoh:
a. Saya akan datang ke rumahmu sekarang atau nanti malam.
b. Dia sangat baik hati dan suka menolong.

2. Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat memperlihatkan berbagai jenis hubungan semantis antara klausa yang membentuknya.
Contoh:
Saya mengerjakan pekerjaan itu sampai larut malam agar besok pagi dapat mengumpulkannya.

3. Kalimat majemuk campuran
Kalimat yang hubungan antara pola-pola kalimat itu ada yang sederajat dan ada yang bertingkat.
Contoh:
Setelah saya bangun tidur, saya mandi, berganti pakaian, sarapan, lalu berangkat ke sekolah.


Demikian artikel "Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk" ini saya susun teman teman. semoga apa yang telah kita pelajari beberapa saat yang lalu dapat bermanfaat untuk kita semua.

Artikel ini saya ambil dari Buku Bahasa Indonesia ( BSE ) " Terampil Berbahasa Indonesia 2 " karangan Gunawan Budi Santoso, Wendi Widya R.D, Uti Darmawati. Semoga Apa yang mereka tulis dapat dicerna oleh teman teman semua ^_^

Pesan yang hendak disampaikan sentra-edukasi.com adalah "Mari kita gunakan BSE!, Siapa bilang BSE tidak bermutu ^_^, MAri kita mudahkan pencarian informasi untuk pendidikan!!!"

»»  READMORE...

CERPEN

CERPEN

Cerpen merupakan genre sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak penting sejarah penulisan cerpen di Indonesia dimulai Muhamad Kasim dan Suman Hasibuan pada awal 1910-an

Cerpen merupakan cerita yang pendek, hanya mengisahkan satu peristiwa (konflik tunggal), tetapi menyelesaikan semua tema dan persoalan secara tuntas dan utuh. Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Kemudian, pada bagian akhir cerita (ending) ditutup dengan suatu kejutan (surprise).



Menurut Phyllis Duganne, seorang wanita penulis dari Amerika, cerpen ialah susunan kalimat yang merupakan cerita yang mempunyai awal, bagian tengah, dan akhir. Setiap cerpen mempunyai tema, yakni inti cerita atau gagasan yang ingin diucapkan cerita itu. Seperti halnya
penamaannya, cerita pendek, cerpen ialah bentuk cerita yang dapat dibaca tuntas dalam sekali duduk.

Menurut Edgar Alan Poe (yang dianggap sebagai tokoh cerpen modern), ada lima aturan penulisan cerpen, yakni sebagai berikut.

1. Cerpen harus pendek. Artinya, cukup pendek untuk dibaca dalam sekali duduk. Cerpen memberi kesan kepada pembacanya secara terus-menerus, tanpa terputus-putus, sampai kalimat yang terakhir.

2. Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik. Sebuah cerpen yang baik mempunyai ketunggalan pikiran dan action yang bisa dikembangkan lewat sebuah garis yang langsung dari awal hingga akhir.

3. Cerpen harus ketat dan padat. Cerpen harus berusaha memadatkan setiap gambaran pada ruangan sekecil mungkin. Maksudnya agar pembaca mendapatkan kesan tunggal dari keseluruhan cerita.

4. Cerpen harus tampak sungguhan. Seperti sungguhan adalah dasar dari semua seni mengisahkan cerita. Semua tokoh ceritanya dibuat sungguhan, berbicara dan berlaku seperti manusia yang betul-betul hidup.

5. Cerpen harus memberi kesan yang tuntas. Selesai membaca cerpen, pembaca harus merasa bahwa cerita itu betul-betul selesai. Jika ujung cerita masih terkatung-katung, pembaca akan merasa kecewa.

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerpen

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsure-unsur yang secara faktual
dapat dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik dalam karya sastra, khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat.

Berikut penjelasan mengenai unsur intrinsik.
1. Tokoh dan Karakter Tokoh
Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis.

Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik. Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protagonis.

Ada beberapa cara penggambaran karakter tokoh dalam cerpen, di antaranya sebagai berikut.

 Melalui apa yang diperbuat tokoh. Hal ini berkaitan dengan bagaimana sang tokoh bersikap dalam situasi ketika tokoh harus mengambil keputusan.
Contoh:
Dengan terburu-buru Wei meninggalkan kota, dan peristiwa itu tak lama kemudian sudah terlupakan. Ia lantas pergi ke barat, ke ibu kota, dan karena dikecewakan oleh pinangan terakhir yang gagal itu, ia mengesampingkan pikirannya dari hal perkawinan. Tiga tahun kemudian, ia berhasil meminang seorang gadis dari keluarga Tan yang terkenal kebaikannya di dalam masyarakat.
Sumber: Cerpen "Sekar dan Gadisnya", Ryke L.

 Melalui ucapan-ucapan tokoh. Dari apa yang diucapkan tokoh kita dapat mengetahui karakternya.
Contoh:
Sumber: Dokumentasi Pribadi Buku kumpulan cerpen Malaikat Tak Datang Malam Hari karya Joni Ariadinata.

"Apa yang tidak Ibu berikan padamu? Ibu bekerja keras supaya bisa menyekolahkanmu. Kau tak punya kewajiban apa-apa selain sekolah dan belajar. Ibu juga tak pernah melarangmu melakukan apa saja yang
kau sukai. Tapi, mestinya kamu ingat bahwa kewajiban utamamu adalah belajar. Hargai sedikit jerih payah Ibu!" Di luar dugaannya anak itu menatapnya dengan berani. "Ibu tak perlu susah payah menghidupi aku kalau Ibu keberatan. Aku bisa saja berhenti sekolah dan tidak usah menjadi tanggungan Ibu lagi." Darah Sekar –ibu anak itu–serasa naik ke ubun-ubun.
Sumber: Cerpen "Sekar dan Gadisnya", Ryke L.

 Melalui penjelasan langsung. Dalam hal ini penulis menggambarkan secara langsung karakter tokoh.
Contoh:
Memang, sebenarnya, semenjak dia datang, kami sudah membenci dia. Kami membenci bukan karena kami adalah orang-orang yang tidak baik, tapi karena dia selalu menciptakan suasana tidak enak. Perilaku dia sangat kejam. Dalam berburu dia tidak sekadar berusaha untuk membunuh, namun menyiksa sebelum akhirnya membunuh. Maka, telah begitu banyak binatang menderita berkepanjangan, sebelum akhirnya dia habiskan dengan kejam. Cara dia makan juga benar-benar rakus. Bukan hanya itu. Dia juga suka mabuk-mabukan. Apabila dia sudah mabuk, maka dia menciptakan suasana yang benar-benar meresahkan dan memalukan. Dia sering meneriakkan kata-kata kotor, cabul, dan menjijikkan.

Sumber: Cerpen "Derabat", Budi Darma


2. Latar (Setting)
Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu sebagai berikut.


a. Latar Tempat
Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.

b. Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan "kapan" terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan.

c. Latar Sosial
Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya.

3. Alur (Plot)
Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita. Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita, yakni sebagai berikut. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai penyelesaian. Susunan yang demikian disebut alur maju. Urutan peristiwa tersebut meliputi:

- mulai melukiskan keadaan (situation);
- peristiwa-peristiwa mulai bergerak (generating circumtanses);
- keadaan mulai memuncak (rising action);
- mencapai titik puncak (klimaks)
- pemecahan masalah/ penyelesaian (denouement)

Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan. Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah, kemudian menengok kembali pada peristiwaperistiwa yang mendahuluinya. Susunan yang demikian disebut alur sorot balik (flashback). Selain itu, ada juga istilah alur erat dan alur longgar. Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat mengganggu keutuhan cerita. Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita.

4. Sudut Pandang (Point of View)
Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada beberapa macam sudut pandang, di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan sudut pandang "aku"), sudut pandang peninjau (orang ketiga), dan sudut pandang campuran.

5. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas,dan penghematan kata. Jadi, gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya.

6. Tema
Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Tema disebut juga ide cerita. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan.

7. Amanat
Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita. Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya. Yang termasuk unsur ekstrinsik karya sastra antara lain sebagai berikut.

1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup.
2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam sastra.
3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.
4. Pandangan hidup suatu bangsa dan berbagai karya seni yang lainnya.
»»  READMORE...

MENGEMBANGKAN PENOKOHAN DALAM CERPEN

MENGEMBANGKAN PENOKOHAN
DALAM CERPEN


Adik-adik, mari kita berlatih menulis cerpen. Kegiatan ini diawali dengan mengembangkan penokohan. Setiap cerita rekaan, termasuk cerpen, tentu mempunyai tokoh. Tokoh cerpen mungkin berupa manusia atau makhluk lain yang diberi sifat-sifat insani. Pada artikel sebelumnya, Anda telah mempelajari dan berlatih mengidentifikasi tokoh dalam cerpen. Pengetahuan tersebut masih tetap relevan sebagai bekal untuk mengembangkan penokohan. Pengetahuan tentang tokoh utama - tokoh bawahan, tokoh antagonis – tokoh protagonis dapat Anda gunakan untuk mengembangkan tokoh cerita. Di samping itu, ada hal-hal lain yang perlu Anda ketahui terkait dengan tokoh, yakni penokohan. Apakah sebenarnya penokohan itu? Perhatikanlah uraian berikut ini!


Penokohan adalah penggambaran watak tokoh dalam suatu cerita. Ada berbagai cara penggambaran watak tokoh, antara lain sebagai berikut. Coba perhatikan masing-masing paparan berikut ini, kemudian tentukan watak masing-masing tokoh dalam kutipan-kutipan cerpen berikut ini!

(a) Cara langsung
Dalam teknik ini pengarang langsung melukiskan tokoh, baik fisiknya, sosialnya, atau kejiwaannya. Pengarang langsung memberitahukan kepada pembaca tentang watak para tokoh dalam ceritanya. Berikut ini contoh penggambaran watak secara langsung.
“Ditemani Ibu Saleha, yang juga sudah tahu duduk perkaranya, Pak RT menghadapi wanita itu. Seorang wanita muda yang meski tidak begitu cantik juga tidak tergolong jelek. Seorang wanita yang hidup dengan sangat teratur. Pergi ke kantor dan pulang ke rumah pada waktu yang tepat. Bangun dan tidur pada jam yang telah ditentukan. Makan dan membaca buku pada saat yang selalu sama. Begitu pula ketika ia harus mandi, sambil menyanyi dengan suara serak-serak basah”.
(Dikutip dari cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, oleh Seno Gumira Ajidarma, Horison Tahun XXXIV, No. 1, Januari 2000, halaman 22).

(b) Cara tak langsung
Melalui deskripsi fisik
Bentuk tubuh tokoh sering menggambarkan wataknya. Namun, cara ini harus diterapkan secara hati-hati karena belum tentu wajah yang jelek dan kasar menggambarkan watak yang kasar. Berikut ini contoh penggambaran watak melalui deskripsi fisik.
“Badannya kurus tinggi, punggungnya bungkuk udang, dadanya cekung, serta kaki pengkar, kepalanya besar, tetapi tipis di muka, serta sulah pula. Rambutnya yang tinggal sedikit sekeliling kepalanya itu telah memutih sebagai kapas dibusur. Misai dan janggutnya panjang, tetapi hanya beberapa helai saja, tergantung pada dagu dan ujung bibirnya melengkung ke bawah. Umurnya lebih tua dari setengah abad. Matanya kecil, tetapi tajam, hidungnya bungkuk, mulutnya besar, giginya hitam kotor, yang di muka keluar sebagai gigi tupai. Telinganya besar seperti telinga gajah, kulit mukanya berkarut-marut dan penuh dengan bekas penyakit cacar.
(Dikutip dari Siti Nurbaya, oleh Marah Rusli, 1979, halaman 87).

Melalui ucapan tokoh
Ucapan tokoh dapat digunakan untuk menggambarkan pikiran, perasaan, sifat, kesukaannya, hal-hal yang dibencinya, atau yang lain. Contoh berikut menunjukkan hal itu.
“Kang Hermain jangan kaget,” Siti tersenyum di depan pintu kamar kontrakanku yang kumuh.
“Siti hanya minta dibawa keliling Jakarta sehari ini saja.”
“Sehari ini?” aku kaget karena merasa tak siap,”Mengapa tak Siti Katakan lewat surat kalau datang hari ini dan minta diantar hari ini juga?”
“Mengapa Akang seperti tak mau?” wajah Siti seperti merajuk, “Keberatan mengantar Siti?”
“Bukan keberatan, Ti. Tapi, aku harus minta izin karena hari ini hari kerja,” aku berkata meyakinkan Siti, “Nanti bisa dipecat aku kalau bolos. Zaman susah begini, setengah mati untuk mendapatkan pekerjaan.”
Tapi, Siti tak mau mendengar alasanku.
(Dikutip dari buku kumpulan cerpen Rawa, oleh Korrie Layun Rampan, halaman 117).

Melalui perbuatan tokoh
Perilaku tokoh juga dapat digunakan untuk menggambarkan watak tokoh. Berikut ini contoh penggambaran watak melalui perbuatannya. Berikut ini contoh pelukisan watak tokoh dengan menggunakan perbuatan tokoh.
“Sebenarnya, siapa sih yang menjahili adikku, buku-bukuku di kelas, menyembunyikan sepatuku, he ...!!!??
“Emangnya kenapa, itu kan salah kamu sendiri yang teledor!! Dan asal kamu tahu saja, bukan aku yang melakukannya, tahu!!”
“Apa?!! Si kurus mendelik. Mukanya memerah.
“Walaupun seandainya aku yang melakukan, kenapa kamu tidak langsung menegurku ... apa karena re... re...”.
“Rekonsiliasi maksudmu!! Bedabah! Asu!! Dasar gendut tak tahu aturan, rekonsiliasi dijadikan alasan. Kugibeng kau!!”
Tangan si kurus meraih kepala si gendut dan menjepitnya di ketiak. Si gendut sempat terhuyung, tapi akhirnya dia mampu berkelit dan memberikan perlawanan setimpal. Bogeman mentah mendarat di hidung si kurus. Merah.Ada darah mewarnai pertarungan antara dua bocah itu.
(Dikutip dari “Rekonsiliasi”, oleh M. Tsany Ubaidillah, dalam Horison, Tahun XXXVII, No. 12, Desember 2003).

Melalui reaksi atau ucapan tokoh lain
Cara ini juga banyak digunakan untuk menggambarkan watak tokoh. Contoh berikut membuktikannya.

“Tapi bukan Marto Manuk namanya jika ia putus asa sampai di situ. Ia telah dikenal begitu sabar ketika sedang memikat burung. Selama dalam perjalanan benaknya terus berputar mencari daya upaya. Dan saat ia membelokkan sepedanya di pintu pasar, sebuah akan jita muncul di benak Marto Manuk. Katuranggan. Ya katuranggan. Aku harus cepat-cepat menemui Wagiyo”
(Dikutip dari cerpen “Katuranggan”, karya Slamet Nurzaini dalam Pelajaran Mengarang: Cerpen Pilihan KOMPAS 1993).

Melalui deskripsi lingkungan
Lingkungan juga dapat dimanfaatkan untuk menggambarkan watak tokoh. Tokoh yang kamarnya berantakan, banyak puntung rokok, dan ada botol bir tentu akan menggambarkan watak tokoh yang berbeda bila dibandingkan dengan tokoh yang kamarnya banyak buku, alas kasur dan bantal tertata rapi.

Terang bulan. Listrik mati. Seperti biasa Naro melangkah pulang menjelang dini hari, menyusuri gang-gang kumuh yang kosong dan sepi, tapi yang kini tembok-tembok lumutannya memancar keperakan karena cahaya rembulan. Tembok-tembok masih hingar-bingar dengan grafiti warna-warni, nama-nama gang yang ganjil, dan kata-kata jorok, tak senonoh, kampungan, yang memang hanya cocok dituliskan di tembok sebuah kampung yang kumuh dengan comberan hitam kotor menggenang berbau petai seperti itu.
(Dikutip dari cerpen “Bulan di Atas Kampung”, karya Seno Gumira Ajidarma dalam Laki-laki yang Kawin dengan Peri: Cerpen Pilihan Kompas 1995, halaman 112)
»»  READMORE...

TIPS MEMBUAT KARYA ILMIAH

KARYA ILMIAH

Ilmiah populer adalah sarana komunikasi antara ilmu dan masyarakat (baca: orang awam). Sudah menjadi budaya, jurnal ilmiah ditulis dengan bahasa ilmiah untuk kalangan elit yaitu para ilmuwan yang memahami topiknya. Kalau sudah begitu jadinya, maka ilmu hanya menjadi milik ilmuwan, bukan milik masyarakat. Padahal peran utama iptek adalah untuk kemashlahatan penduduk bumi: semua makhluk hidup. Disinilah peran jurnalismus, menjadi PR iptek, menjadi sarana komunikasi antara ilmu dan masyarakat!




Karya ilmiah populer yang baik bukan berarti menulis hasil penelitian dengan lengkap. Prinsip utamanya adalah mencari sudut pandang yang unik dan cerdas, serta menggugah rasa ingin tahu pembaca awam. Sebetulnya menulis ilmiah populer mudah. Berbeda dengan menulis cerpen atau non-fiksi yang memerlukan keratifitas dan imajinasi tinggi. Dalam penulisan non-fiksi yang terpenting anda mengumpulkan fakta-fakta, menyeleksinya, menetapkan fokus dan meramu story. Beberapa tips yang dapat membantu dalam meramu karya ilmiah populer bisa anda ikuti dalam tulisan ini.

Menyusun strategi sebelum menulis

Think twice before writing, kata Ken Golstein penulis dari Columbia School of Journalism. Sebelum mulai menulis ilmiah populer, dan sebelum anda masuk kepada dramaturgi, sistematik tulisan, detail, setidaknya anda harus memikirkan strategi berikut:
Kepada siapa anda menyajikan tulisan anda?

Media apa yang anda pilih (internet, televisi, koran, majalah, radio, dsb)

Gaya penulisan apa yang paling tepat?

Kira-kira berapa lama pembaca meluangkan waktu untuk membaca tulisan anda?
Empat point diatas sebetulnya teknik dasar jenis tulisan apapun. Untuk ilmiah populer, teknik itu semakin urgent lagi. Ingat, menulis ilmiah populer sama dengan menterjemahkan ilmu yang ngejelimet ke dalam bahasa yang dimengerti secara umum. Tidak semua orang memahami ilmu anda, apalagi dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan. Spesialisasi ini menyebabkan seorang ahli paham di bidangnya tapi gak mudeng dengan bidang lain.

Kepada siapa anda menyajikan tulisan?Seberapa dalam informasi yang akan anda sajikan tergantung siapa pembacanya. Karya ilmiah populer di koran umum, tentunya lebih isinya lebih dangkal daripada di majalah scientific misalnya. Sifat tulisan untuk pembaca umum, lebih mengedepankan unsur entertainment, dibandingkan tulisan untuk komunitas spesifik (misalnya majalah khusus komputer). Selain dari segi isi, karya ilmiah populer untuk komunitas spesifik lebih banyak menggunakan technical jargon. Boleh saja, sebab disini istilah spesifik tidak akan asing lagi bagi pembacanya.

Media apa yang anda pilih?
Informasi untuk di internet, televisi, koran atau majalah berbeda cara penulisannya. Misalnya media televisi mempunyai kelebihan dapat menampilkan gambar. Sehingga penggunaan teks jauh lebih sedikit. Namun kelemahan media ini, waktu yang tersedia jauh lebih singkat daripada media cetak. Cotoh lain, perbedaan antara media cetak dan online. Media online dengan sifat revolusioner hyperlinks-nya dapat merubah alur membaca. Kelebihan sifat link ini, anda dapat mengarahkan pembaca kepada fokus yang anda tuju. Berbeda dengan media cetak misalnya buku, karakteristik membaca sifatnya linear. Anda mengarahkan pembaca melalui daftar isi.

Gaya penuturan apa yang paling tepat?Kerahkan imajinasi anda. Kira-kira bagaimana anda akan menyampaikan informasi paling tepat. Apakah dengan gaya reportase, menampilkan sosok yang bercerita, atau tutorial sifatnya.

Kira-kira berapa lama waktu yang tersedia bagi pembaca?
Pembaca koran bisayan lebih sedikit meluangkan waktu membacanya daripada pembaca majalah. Bukankah koran yang sudah seminggu dinyatakan tidak aktual lagi? Umumnya pembaca tidak mengorek-ngorek lagi koran yang sudah bertumpuk selama setahun lamanya. Semakin sedikit waktu yang tersedia, informasi yang anda sajikan semakin pendek dan harus cepat menuju sasaran.

Membidik Pembaca: Pilih Topik Menarik

Tulisan ilmiah populer anda dedikasikan untuk pembaca awam. Bukan expert yang memang berkecimpung di bidangnya. Posisikan diri anda pada pembaca. Pikirkan, mengapa anda perlu membagi ilmu anda? Apa yang membuat pembaca dapat tertarik dengan tulisan anda? Beberapa cara menggelitik motivasi pembaca:

Mengaitkan dengan kondisi aktual

Cth.: Masih segar dalam ingatankita ketika beberapa waktu yang lalu, Kementrian Komunikasi dan bersama-sama dengan komunitas telematika Indonesia meluncurkan satu konsep bulan telematika ICT (Information and Communication Technology) month yang akan jatuh pada bulan Agustus 2003. Tujuan utamanya adalah usaha sosialisasi aplikasi teknologi informasi dan komunikasi memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas kehidupan masyarakat…
IlmuKomputer.com, Strategi mengelola situs E-Learning Romi Satria Wahono

Tulisannya dimulai dengan leading kondisi aktual. Sebagian pembaca mungkin pernah mendengar konsep bulan telematika yang sedang aktual. Tapi apa sebenarnya di balik konsep itu? Nah dari kondisi aktual inilah penulis membidik pembaca.

Mengaitkan dengan kegiatan sehari-hari

Cth.: Sebenarnya menangis saat mengupas/memotong/mengiris bawang bisa menyehatkan mata. Beberapa pakar percaya, air mata yang keluar karena rangsangan hawa bawang membersihkan mata dan kelopaknya dari debu dan kuman. Keluarnya air mata ini membuat mata bening dan berbinar. pikiran-rakyat, Tak cengeng saat mengupas bawang Febdian Rusydi

Contoh diatas bernuansa entertainment, artinya topik yang dipilih mudah dicerna, membacanya bersifat refreshing. Mudah dicerna karena berkaitan erat dengan kejadian sehari-hari. Siapa yang tidak pernah merasakan perihnya memotong bawang? Lain halnya dengan tulisan ilmiah hasil penelitian kandungan bawang berikut metodenya. Siapa peduli membacanya? Ilmiah populer yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari membuat pembaca merasa sedikit lebih clever setelah membacanya. Merasa puas mengerti apa yang terjadi disekitarnya. Dengan cara ini pembaca awam menjadi akrab dengan ilmu di luar spesialisasinya.

Menyajikan value added

Cth.: Nama baik & nilai sebuah dotcom bisa jatuh bahkan menjadi tidak berharga jika dotcom di bobol. Dalam kondisi ini, para hacker di harapkan bisa menjadi konsultan keamanan bagi para dotcommers tersebut – karena SDM pihak kepolisian & aparat keamanan Indonesia amat sangat lemah & menyedihkan di bidang Teknologi Informasi & Internet. Apa boleh buat cybersquad, cyberpatrol swasta barangkali perlu di budayakan untuk survival dotcommers Indonesia di Internet.
IlmuKomputer.com, Belajar menjadi Hacker, Onno W. Purbo

Bagi sebagian pembaca awam, hacker suatu dosa berat. Tapi penulis memilih sudut pandang yang unik: belajar hacker itu penting untuk keamanan. Dengan penyajian ini, pembaca merasa perlu belajar ilmu si penulis: ada value added dari topik yang disajikan!

Memperkenalkan ilmu atau temuan baru

Teknologi ini mula-mula dipraktekan di negara yang terkenal dengan budaya gourmet alias Perancis. Akhir-akhir ini banyak berkembang di Jerman. Bagaimana tidak, kompor dengan teknologi induksi banyak membawa keuntungan. Panasnya cepat, mudah diatur. Dan yang paling menentukan, permukaan kompor dari bahan keramik ini tidak panas sama sekali. Hanya isi panci anda yang menjadi panas! Amazing bukan? Tidak seperti kompor listrik, dengan teknologi induksi ini panas tidak terjadi pada permukaan kompor, melaikan dalam panci itu sendiri. Kochen mit Induktion, Anja Anja Arp, Servize Zeit wdr.

Memperkenalkan ilmu atau temuan baru serta mengaitkan dengan kebutuhan masyarakat adalah salah satu tugas penulisan ilmiah populer. Dengan memperkenalkan iptek, tingkat acceptance iptek itu sendiri semakin bertambah di kalangan masayarakat. Tidak harus melulu, kebutuhan sehari-hari, contoh lain sejenis misalnya manfaat penggunaan software SAP untuk bidang bisnis, teknologi baru operasi dengan laser di rumah sakit, dsb.

Dengan contoh-contoh diatas anda memahami perbedaan menyolok antara karya ilmiah dan ilmiah populer. Ilmiah populer seringkali mengangkat topik yang berkaitan dengan masyarakat awam.

Meramu karya ilmiah populer

Setelah mendapatkan topik yang pas dan bahan-bahansudah terkumpul, tahap berikutnya meramu bahan-bahan menjadi tulisan yang menarik. Bagaimana memulai menulisnya? Terkadang tulisan mengalir, bila anda memposisikan diri anda pada pembaca: seorang professor, ibu rumah tangga, manajer, politikus, mahasiswa, atau apa saja. Pikirkan apa yang kira-kira apa yang diperlukan pembaca, pertanyaan apa yang akan mereka ajukan.

Leading

Struktur klasik karya ilmiah (skripsi, disertasi atau laporan penelitian) biasanya diawali 20% pembukaan (hasil penelitian aktual, problematika aktual), 60% inti isi tulisan (metode penelitian, pemecahan permasalahan), barulah 20% terakhir kesimpulan atau masukan untuk penelitian ke depan. Seringkali karya ilmiah berhenti pada hasil penelitian atau pada ilmu itu sendiri.

Tidak demikian halnya dengan sebuah karya ilmiah populer. Tulisan jenis ini mencoba mengail minat pembaca dari sejak awal tulisan. Siapa peduli dengan problematika penelitian dan stand terakhir penelitian. Yang penting pembaca mengetahui, apa pentingnya tulisan ini bagi saya.

Oleh karena itu, leading (pembukaan) sebuah karya ilmiah populer harus merangsang motivasi pembaca. Leading memuat informasi singkat apa isi tulisan, tapi bukan rangkuman yang mengurai semuanya. Setelah membaca leading seharusnya masih tersisa sejumlah pertanyaan yang memotivasi pembaca mengetahui jawabannya dalam tubuh tulisan.

Pemaparan informasi

Pemaparan informasi dalam tubuh tulisan harus fokus, sesuai dengan tema yang disitir dalam leading. Buat alur yang menarik, sehingga pembaca mau mengikuti paragraf demi paragraf sampai selesai. Ada beberapa cara pemaparan yang baik

Haruskah alur berbentuk piramida terbalik?

Alur piramida terbalik berarti dimulai dari informasi yang terpenting sampai ke detail yang kurang penting. Keuntungannya, pembaca cepat mendapat informasi utama. Biasanya model ini dipakai untuk penulisan hard news (berita singkat). Namun untuk tulisan karya ilmiah yang komplex dan panjang belum tentu model ini bisa dipakai. Sebab terkesan membosankan. Hal yang terpenting sudah diketahui di awal, pembaca merasa sudah cukup dengan paragraf-paragraf awal. Tidak ada unsur menggelitik rasa ingin tahu lebih lanjut.

Merubah numerasi dan pembagian bab

Anda pasti mengenal struktur klasik sebuah karya ilmiah: bab utama, sub bab, dst. Atau struktur tulisan dengan pembagian A, A.1, A.2, dst. Pembagian struktur seperti ini terasa sangat kaku bila anda gunakan dalam karya ilmiah populer. Namun harus diingat, untuk tulisan yang cukup komplex pembagian struktur seperti itu sangat membantu.

Gunakan kekuatan kata-kata atau teks untuk memperjelas struktur tulisan. Misalnya pada bab utama anda tuliskan rangkuman informasi yang mewakili sub-sub bab selanjutnya. Barulah sub-sub bab memuat detail informasi. Gunakan juga karakter tulisan yang berbeda, misalnya bold atau besar huruf untuk menandakan sub kapitel. Dengan begitu penggunaan abjad atau numerasi yang terasa kaku bisa dihindari.

Alur kronologis

Artinya alur cerita mengikuti satuan waktu: jam, hari, bulan atau tahunan. Disini patokan waktu explisit tercantum. Contohnya: Karya ilmiah populer tentang pertumbuhan tanaman selama empat musim. Informasi disini akan terstruktur sesuai dengan kronologis musim.

Alur proses

Mirip dengan alur kronologis. Disini alur mengikuti proses-proses yang berurutan. Contohnya: tutorial software,

Deduksi

Penulisan ilmiah populer yang berdasar pada deduksi, memulai alur penjelasan dari hal yang umum menuju hal yang khusus. Contohnya: kebijakan pemerintah dalam masalah anggaran penelitian dan dampaknya bagi reset bidang teknologi kimia.

Induksi

Induksi kebalikan dari deduksi: dimulai dari informasi atau fakta-fakta khusus untuk menentukan kesimpulan yang berlaku umum. Dalam journalimus induksi dapatberupa penjelasan, anekdot atau analogi yang menggambarkan prinsip umum. Contohnya: beberapa contoh dan fakta kerusakan lingkungan. Dari sini dapat diambil kesimpulan kebijakan politik yang harus diambil dalam rangka pelestarian lingkungan.

Reportase

Dengan jenis pemaparan ini, anda bertutur tentang apa yang anda rekam, lihat atau rasakan dari tempat kejadian. Dengan penuturan yang baik, pembaca akan merasa live di tempat kejadian. Sebuah reportase tidak harus menceritakan kejadian dari awal sampai akhir. Seringkali diambil fokus tertentu yang diangkat ke permukaan. Contoh ilmiah populer berbentuk reportase misalnya: seminar atau konferensi ilmiah, observasi kejadian alam, reportase sebuah experimen ilmiah, dsb.


Problematika penggunaan jargon

Seberapa jauh penulis bebas menggunakan jargon? Gunakan seperlunya secara tepat. Anda bisa memberikan definisi, terjemahan, atau penjelasan. Sering juga istilah-istilah asing justru lebih singkat, padat dan tepat. Namun anda harus berhati-hati terlalu banyak akan menyulitkan pembaca. Semuanya bergantung dimana dan untuk siapa tulisan akan anda sajikan.

Menggunakan Defisini

Foodborne disease adalah penyakit yang timbul dari pencernaan dan penyerapan makanan yang mengandung mikroba oleh tubuh manusia. Penyakit ini erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Jika tidak memperhatikan kebersihan makanan dan lingkungan, maka merugikan manusia. Makanan yang berasal baik dari hewan atau tumbuhan dapat berperan sebagai media pembawa mikroorganisma penyebab penyakit pada manusia.
www.kharisma.de, drh. Rochmiyati Setiadi

Dalam tulisan diatas foodborne disease adalah istilah baku yang sulit dibuang. Penggunaan istilah spesifik ini lebih ringkas dan juga tepat. Definisi cukup diberi sekali diawal.

Menggunakan Terjemahan

Bila tidak terlalu rumit, anda cukup memberikan terjemahan dalam kurung:

Beberapa obat-obatan yang termasuk didalamnya adalah antibiotika, antihistamin (anti alergi), analgetik (penghilang rasa nyeri), antipiretik (obat penurun panas), antitusif (obat batuk), dan lain-lain.
www.kharisma.de, Melur Pandan Wangi.

Mencari padanan jargon dalam bahasa Indonesia yang singkat dan padat tidak selalu berhasil. Dalam kasus ini, bila tidak ada padanannya gunakan istilah aslinya, dengan penjelasan, definisi. Dapatkah anda membayangkan seandainya perintah dan menu Word ditulis dalam versi Indonesia?

Banyak juga jargon yang sudah diterjemahkan dalam bahasa indonesia. Dalam dunia komputer misalnya: software (perangkat lunak), network (jaringan), application (aplikasi), computing (komputasi), dsb. Untuk tips, banyak-banyak membaca tulisan ilmiah populer dari jenis yang sama. Disitu anda mendapatkan feeling jargon apa saja yang sering digunakan atau memang belum ada padanannya.

Bila definisi dan terjemahan tidak cukup

Tidak selamanya terjemahan atau definisi dapat memperjelas. Seperti kata layer yang berarti lapisan dalam konteks tutorial Photoshop:

Berikutnya anda akan belajar menggunakan layer untuk membuat gambar kota tua berlangit biru.
www.kharisma.de, tutorial photoshop, Dian Suprapto

Pembaca paham layer berarti lapisan. Tapi pembaca yang sama sekali buta software Photoshop akan kesulitan. Oleh karena itu, bukan terjemahan dan definisi yang diperlukan. Tapi berikan analogi diluar dunia Photoshop yang mudah dimengerti:

Anda dapat menganalogikan prinsip kerja layer dengan tumpukan lembar transparensi. Dengan step diatas Anda membuat lembar transparensi gambar kota tua dengan langit kosong (transparensi 1) dan transparensi bergambar langit biru (transparensi 2). Bila anda menumpuk transparensi 1 dan 2 (dengan susunan trasnparensi 2 paling bawah) maka akan menghasilkan gambar kota tuaberlangit biru.
www.kharisma.de, tutorial photoshop, Dian Suprapto

Istilah asing: bila lebih mudah diingat, gunakan!

Tulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. ''Less is more,'' lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal.
Penaindonesia.com, Seperti tarian burung camar, Farid Gaban

Less is more, kalimat pendek dan mudah diingat. Bila diterjemahkan ke dalam Indonesia “sedikit justru sebetulnya lebih banyak” gregetnya kurang! Namun jangan juga terlalu mubazir dalam penggunaan bahasa asing.

Istilah asing: bila tak perlu, tinggalkan!

Penggunaan istilah asing yang rumit dalam satu paragraf, akan mengganggu kenyamanan pembaca. Ingat: Writing is giving service! Seperti soto dengan banyak „ranjau“ rempah-rempah daun salam, laus, jahe, daun jeruk. Anda akan terhenti menikmati soto karena harus menyisihkan rempah! Jangan pernah berpikir: menggunakan istilah asing agar terlihat elit! Justru efek sebaliknya yang akan anda dapatkan.

Kadang-kadang pada suatu masa yang sama, dua orang pahlawan muncul secara bersamaan, pada bidang yang sama, tapi dengan molaritas heroisme yang relatif berbeda. Salah satu diantara keduanya biasanya mengalami proses iconisasi atau simbolisasi, dimana ia dianggap sebagai simbol dari epoch dan genrenya. Namun pada community yang sudah dewasa dan matang, proses iconisasi itu biasanya tidak berlanjut dengan proses sakralisasi.

Kata-kata yang bergaris bawah diatas sudah „di indonesiakan“. Namun pembaca tersandung-sandung mencerna alinea diatas. Dijamin, pembaca harus membacanya minimal dua kali hingga memahami. Sering ya, kita temukan istilah asing yang berlebihan.

Bila memang efisien, padukan dengan gambar

A picture tells thousand words, demikian kata pepatah. Seringkali kali gambar atau grafik lebih mudah dicerna daripada rangkaian kata-kata. Tapi perlu diingat, gambar saja tidak cukup harus disertai keterangan yang jelas. Contoh ini berlaku misalnya untuk tutorial. Gunakan scrennshot menu-menu software untuk memperjelas perintah.

Problematika angka

Penggunaan angka dalam karya ilmiah sudah lumrah. Terutama untuk menunjukan akurasi atau memperkuat argumentasi. Sama dengan penggunaan istilah asing atau jargon. Pencantuman angka cukup seperlunya. Bila terlalu banyak, perhatian pembaca akan tertuju pada angka dengan demikian kenyamanan membaca menjadi berkurang.

Angka sebagai penguat informasi

Cth.: Saat suhu udara mulai menghangat mulailah jenis bakteri ini berkembang dengan pesatnya. Terlebih lagi bila ia berkembang pada jenis makanan tertentu yang memang rawan salmonella, yaitu makanan yang mengandung protein tinggi. Bila kondisinya sangat menunjang, bakteri ini akan membelah diri setiap 20 menit sekali, satu bakteri akan berkembang dalam waktu 5 jam menjadi 45 000.
www.kharisma.de, Salmonella bahaya tak terlihat, Dian Suprapto.

Pencantuman angka disini memberi gambaran jelas: bakteri Salmonella pada makanan dapat bekembang demikian pesatnya.

Angka saja tidak cukup: perlu keterangan lanjut

Kecelakaan lalu lintas lebih sering terjadi pada kecepatan 50km/h. Sedangkan pada kecepatan 200 km/h lebih sedikit.

Tanpa keterangan lebih lanjut, angka-angka diatas terlihat sepintas tidak masuk akal. Mengapa justru dengan kecepatan tinggi lebih jarang terjadi kecelakaan? Jawaban logisnya terletak pada penjelasan, bahwa jarang kendaraan berkecepatan 200km/h, sehingga lebih jarang terjadi kecelakaan. Namun sayangnya dalam tulisan itu tidak ada sama sekali.

Sama seperti contoh berikut:

Dalam 5 tahun terakhir ini, jumlah penerima hadiah Nobel bidang biologi dari kalangan wanita meningkat 50%.

Angka di atas tidak menunjukan data yang akurat. Bisa saja lima tahun terakhir jumlahnya ada 4 wanita dan tahun ini menjadi 6 (hanya penambahan 2 orang).

Pencantuman angka yang tidak perlu

Banyak penulis menyangka pencantuman angka selalu memberi kesan kompeten! Sekali lagi pertimbangkan baik-baik: apakah pencantuman angka memberi nilai informasi plus atau tidak. Ingat, Less is more, kata Hemingway. Angka berlebihan hanya akan mengganggu kenyamanan membaca.

Cth.: Belum jelas terbukti apa penyebab over stimulasi ovarium atau dikenal dengan istilah OHSS (Ovarian Hyperstimulation Syndrom). Dikatakan kondisi kritis bagi pasien bila terdeteksi hematokrit (> 43), pembengkakan ovarium (> 12 cm), dst …

Bagi dokter angka-angka diatas penting untuk menegakkan diagnosa OHSS kritis. Tapi bagi pasien apa artinya? Sebab, pembaca tidak mengetahui berapa kekentalan darah (hematokrit) yang normal, atau berapa besar ovarium dalam kondisi normal. Untuk membuat brosur kesehatan bagi pasien, lebih penting menerangkan simptom yang dirasa pasien. Dan tidak melulu angka-angka pengukur.

Multi interpretasi angka statistik

Cth.: Wanita terbukti sebagai manajer handal. Hanya 15 dari 1000 perusahaan Jerman yang dimpimpin wanita mengalami bangkrut. Perusahaan yang dipimpin manajer pria lebih banyak mengalami bangkrut: 21 dari 1000 perusahaan.
Witschaftsmagazin “DM“.

Angka di atas menimbulkan interpretasi ganda:
Wanita memang betul-betul lebih handal daripada pria

Wanita memimpin perusahaan di bidang yang tidak terlalu riskan

Perusahaan yang dimpimpin manajer pria lebih cepat bangkrut? (apakah satuan waktu untuk kedua kubu sama?)

Perusahaan yang dipimpin manajer wanita lebih awet tidak bangkrut? (tapi toh kalau satuan waktu sama, akankah jumlahnya lebih banyak?
Dengan contoh diatas, penulis belum berhasil memberikan informasi dengan obyektif. Bila anda mencantumkan angka statistik, perlu memjelaskan methode pengambilan sample serta satuan-satuan lagi yang mendukung. Membaca angka lebih payah daripada membaca teks. Mengapa tidak menggunakan grafik bila lebih membantu kenyamanan membaca?

Sumber:

- Wissenschaftsjournalismus, Winfried Göpfert, 2001

- Manuskript mata kuliah " Textverstehen – Textverständlichkeit – Textoptimierung unter Verständlichkeitsgesichtspunkten. Göpferich, Susanne, Technical Writing, university of applied sciences Karlsruhe, Germany.

- Göpferich, Susanne (1998): Interkulturelles Technical Writing: Fachliches adressatengerecht vermitteln.

- Journalistisches Texten, Jürg Häusermann 2001.
»»  READMORE...

Kamis, 24 Maret 2011

DRAMA

Drama adalah karya seni berupa dialog yang dipentaskan. Drama kerap dimasukkan dalam ranah kesusasteraan karena menggunakan bahasa sebagai media penyampai pesan.
Menurut jenisnya, pementasan drama dapat digolongkan menjadi empat macam yaitu drama tragedi, drama komedi, melodrama, dan dagelan.
1.Drama tragedi adalah drama yang melukiskan kisah sedih. Tokoh-tokohnya menggambarkan kesedihan. Tokoh dalam drama tragedi ini disebut tragic hero artinya pahlawa yang mengalami nasib tragis.
2.Drama komedi adalah drama yang bersifat menghibur, di dalamnya terdapat dialog kocak yang bersifat menyindir , dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Tokoh-tokoh dalam drama jenis ini biasanya tolol, konyol, atau bijaksana tetapi lucu.
3.Melodrama adalah cerita yang sentimental. Artinya tokoh dan cerita yang disuguhkan mendebarkan dan mengharukan. Tokoh dalam jenis drama ini biasanya digambarkan hitam-putih. Tokoh jahat digambarkan serba jahat, sebaliknya tokoh baik digambarkan sangat sempurna baiknya hingga tidak memiliki kesalahan dan kekurangan sedikit pun.
4.Dagelan (farce) adalah drama kocak dan ringan. Alurnya disusun berdasarkan perkembangan situasi tokoh. Isi cerita biasanya kasar dan fulgar. Drama jenis ini juga disebut komedi murahan atau komedi picisan.
Berdasarkan teknik pementasannya, drama dibedakan atas drama bentuk drama tradisional dan drama modern. Drama tradisional adalah seni drama yang berakar dan bersumber dari tradisi masyarakat, bersifat spontan dan improvisatoris.
Sedangkan drama modern adalah drama yang bertolak dari hasil sastra yang disusun untuk suatu pementasan. Jadi, perbedaan utama antara drama tradisional dengan drama modern terletak pada tidak ada atau adanya naskah.
Drama tradisional dapat dikelompokkan menjadi:
1.drama tutur (lisan dan belum diperankan): kentrung, dalang jemblung,
2.drama rakyat (lisan, spontan, dan cerita daerah): randai, kethoprak,
3.drama wayang/klasik (segala macam wayang): wayang kulit, wayang beber, wayang golek, wayang orang, langendriyan,
4.drama bangsawan (dipengaruhi konsep teater Barat dan ditunjang pengaruh kebudayaan melayu dan Timur Tengah): komedi bangsawan, komedi stambul.
Drama modern dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.drama konvensional (sandiwara) adalah drama yang bertolak dari lakon drama yang disajikan secara konvensional.
drama kontemporer (teater mutakhir) adalah drama yang mendobrak konvensi lama dan penuh dengan pembaharuan, ide-ide baru, gagasan baru, penyajian baru, penggabungan konsep Barat-Timur.
Adapun unsur-unsur drama adalah:
1.Tema
2.Setting atau Latar
3.Alur atau Plot
4.Penokohan atau Perwatakan
5.Amanat
6.Bloking dan Akting
7.Tata Pentas.
Dalam Kurikulum 2006, analisis drama banyak diarahkan pada analisis tentang penokohan.
Tokoh dalam drama dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan peran terhadap jalan cerita, ada tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis.
a. Tokoh protagonis adalah tokoh utama cerita yang pertama-tama menghadapi masalah. Tokoh ini biasanya didudukkan penulis sebagai tokoh yang memperoleh simpati pembaca/penonton karena memiliki sifat yang baik.
b. Tokoh antagonis adalah tokoh penentang tokoh protagonis.
c. Tokoh tritagonis disebut juga tokoh pembantu, baik membantu tokoh protagonis maupun antagonis.
2. Berdasarkan peran dalam lakon serta fungsinya, ada tokoh sentral, tokoh utama, dan tokoh pembantu.
a. Tokoh sentral adalah tokoh-tokoh yang paling menentukan gerak lakon. Tokoh sentral merupakan biang keladi pertikaian. Dalam hal ini tokoh sentral adalah tokoh protagonis dan tokoh antagonis.
b. Tokoh utama adalah pendukung atau penentang tokoh sentral. Mereka dapat berperan sebagai perantara tokoh sentral. Dalam hal ini, yang berperan sebagai tokoh utama ialah tokoh tritagonis.
c. Tokoh pembantu yaitu tokoh-tokoh yang memegang peran pelengkap atau tambahan dalam mata rantai cerita. Kehadiran tokoh pembantu ini hanya menurut kebutuhan cerita. Tidak semua lakon drama menghadirkan tokoh pembantu.
Mengenal dan memahami tokoh mutlak dilakukan oleh calon pemeran, sebab akan memungkinkannya mengenal benar hubungan tokoh yang akan diperankannya dengan tokoh-tokoh lainnya. Dengan demikian, akan memperjelas sifat dan perilaku tokoh yang harus diperankannya.
Membaca naskah dan memahami tokoh harus diikuti dengan latihan pementasan. Latihan-latihan ini meliputi:
1.latihan sikap, gerak atau perbuatan agar tidak canggung, tidak kaku , dan tidak overacting,
2.latihan blocking (perpindahan dari satu tempat ke tempat lain),
3.latihan dialog (pembicaraan dengan tokoh lain) secara tepat,
4.latihan gesture (gerakan tangan dan kaki) secara wajar,
5.latihan vokal dengan artikulasi yang tepat,
6.latihan menggambarkan watak secara wajar,
7.latihan mimik (ekspresi wajah) sehingga agar meyakinkan penonton,
8.latihan pantomimik (gerakan-gerakan tubuh), dan
latihan memanfaatkan segala properti dan situasi pentas dengan baik.
Yang perlu dipahami, dialog pemain tidak harus sama persis dengan yang tertulis dalam teks. Pemain boleh saja menambahi atau mengurangi agar tercapai tingkat penjiwaan yang lebih tinggi.

INFO LEBIH TENTANG BAHASA INDONESIA kunjungi URL di bawah :

http://bastindo.blogspot.com/2010/07/materi-drama.html
http://www.docstoc.com/docs/23792921/materi-bahasa-indonesia-sma
http://www.siwan.web.id/search/bahasa-dan-sastra-indonesia-materi-drama.html
http://www.blogger.com/page-edit.g?blogID=7596393961899682734&pageID=1182205261322289082
http://indonesialanguage.blogspot.com/2008/03/materi-bahasa-indonesia_287.html
»»  READMORE...

Memahami Pementasan Drama

-Drama adalah karya pertunjukan tentang tingkah laku manusia yang ditampilkan diatas panggung.
-Persoalan yang diangkat dalam drama dapat berasal dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain atau hasil pemikiran imajinasi. Persoalan tersebut kemudian dioalah sedemikan rupa, menjadi potongan-potongan peristiwa yang dirangkai secara indah seakan-akan benar-benar terjadi. Konflik yang diciptakan dapat berupa konflik eksternal (konflik antar tokoh) atau konflik internal (konflik dalam diri tokoh yaitu antara keinginan dan realita yang berbeda).
-Naskah drama mengandung beberapa unsur tokoh antara lain:
1. pelaku/tokoh
2. dialog/percakapan/wawacang
3. keterangan lakuan/kramagung
4. keterangan lainnnya, meliputi prolog, epilog, latar, kostum, properti, dll
-Dalam mempersiapkan pementasan drama perlu diperhatikan hal-hal berikut:
a. tahap persiapan:


  1. menghafal teks/menghafal alur
  2. memahami vokal dan intonasi
  3. memahami watak dan perilaku yang diperankan
  4. memahami cerita secara keseluruhan
  5. mempersiapkan arena/panggung
b. tahap peelaksanaan:
  1. selalu memperhattikan pengusapan, intonasi serta teknik pernafasan 
  2. berakting sesuai dengan tuntutan karakter dalam cerita
-Langkah-langkah pementasan drama:
  1. menyusun naskah (idenya bisa merupakan ide asli, saduran, kisah lain yang ada)
  2. melakukan pembedahan secara bersama-sama atas naskah yang dimainkan, tujuannya agar semua calon pemain memahami peran sesuai isi naskah
  3. reading yaitu calon pemain membaca keseluruhan nnaskah sehingga memahami perannya dan peran tokoh lain
  4. casting, melakukan pemilihan pemeran bertujuan menempatkan seseorang sesuai kemampuannya berperan untuk tokoh tertentu
  5. mendalami peran yang ingin dimainkan melalui pemgamatan di lapangan. Calon pemeran mencari informasi sebanyak mungkin tentang karakter dan kebiasaan tokoh yang diperankan
  6. blocking, sutradara mengatur akting yang dilakukan pemeran agar terjadi pemandangan/pementasan yang dapat dilihat secara ilmiah
  7. ranning, pemain menjalankan latihan secara lengkap mulai dari dialog, nafas
  8. gladi bersih, yaitu latihan terakhir sebelum pementasan agar pementasan tidak terjadi kekurangan
  9. pementasan yaitu semua komponen pementasan digunakan secara lengkap agar pementasan sesempurna mungkin
-Unsur-unsur drama yang perlu kita ingat:
  1. tema dan amanat, jika tema dalam drama merupakan ide central yang menjadi pokok persoalan maka amanat merupakan pemecahannya atau jika tema meerupakan pernyataan, maka amanat sebagai jawabannya
  2. penokohan/karakteristik/perwatakan adalah penampilan tokoh sebagai pembawa peran watak tokoh yang bertanggung jawab untuk mampu menciptakan citra tokoh agar hidup
  3. alur atau plot/trap, rangakaian atau jalinan peristiwa yang sambung menyambung membentuk hubungan sebab akibat dalam cerita
  4. setting adalah suasana, keadaan tampilan ketika tokoh tampil diatas pentas, contoh setting luar antara lain ruang,  waktu, situasi,  contoh setting dalam antara lain mimik, pandangan mata, ekspresi gerak, dsb
  5. tikaian/konflik adalah saat penting dan genting yang mampu menimbulkan peristiwa dramatis yaitu peristiwa yang mengandung konflik, peristiwa yang mengandung rasa ingin malu
  6. cakapan/dialog adalah dialog yang harus diucapkan oleh pemeran
»»  READMORE...

Tata Cara Penulisan Karya Ilmiah

Sehubungan dengan banyaknya permintaan bagaimana cara penulisan karya tulis ilmiah, maka pada postingan kali ini kami memberikan alternatif tentang bagaimana cara menulis karya ilmiah yang baik. Pada postingan ini anda juga bisa download panduan lengkap tentang karya ilmiah remaja dan cara penyusunannya.
Selamat membaca…
Tata Cara Penulisan Karya Ilmiah
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah, yaitu:
1.Istilah asing dicetak miring dan dituliskan dengan benar
misal: base station
…cell sites –> …cell site
downlinknya –> downlink-nya
2. Penggunaan kata ‘dimana’
misal: ..teknik dimana digunakan..(salah)
..teknik yang digunakan..(benar)
pada persamaan:
x = y + z
dimana: <– keterangan: (sebaiknya kata ‘dimana’ diganti dengan ‘keterangan’) y= nilai asumsi z= nilai hitungan 3.Sebaiknya tidak menggunakan kata ‘kita’,’saya’ (kata ganti orang) dalam karya ilmiah. misal: ..dapat kita asumsikan…(salah) ..dapat diasumsikan…(benar) 4. Menggunakan kalimat pasif. (seperti contoh no 3 di atas) 5. Persamaan diberi nomor sesuai bab dan urutan serta tidak dicetak tebal. misal: c = a * b (2.3) 6. Gambar, tabel, persamaan, dan pernyataan/kutipan diberi sumber acuannya. 7. Kekonsistenan dalam penulisan. misal: …perkembangan selular… (kalimat ke 2) …seluler…(kalimat ke 10) 8. Tulislah kata dengan lengkap. misal: & –> dan
yg –> yang
9. Singkatan diikuti kepanjangannya dan untuk kalimat berikutnya cukup singkatannya saja.
misal:
MU (mobile unit)… (kalimat ke 3)
…perawatan perangkat MU tidaklah terlalu sulit. (kalimat ke 10)
10. Gunakan EYD
misal:
bilangan 10,000 km –> 10.000 km
…didapat… –> …diperoleh…
…terdiri dari…–> …terdiri atas…
Penggunaan huruf besar di awal kalimat.
Penempatan titik (.) dan koma (,) yang sesuai.
11. Ikuti tata cara/format penulisan karya ilmiah yang berlaku (yang dikeluarkan oleh institusi)
misal:
> ukuran margin
> ukuran kertas
> jenis huruf
12. Cek penulisan sebelum diserahkan
»»  READMORE...

penokohan dan alur dalam sebuah cerita/drama

cara pengarang menggambarkan watak tokoh:
*penjelasan langsung pengarang
*dialog antar tokoh
*tanggapan/reaksi dari tokoh lain terhadap yokoh utama
*pikiran2 hati tokoh
*lingkungan di sekitar tokoh, penampilan tokoh(rapi, bersih, teratur)
*bentuk fisik tokoh
*tingkahlaku, tindakan tokoh/ reaksi tokoh terhadap suatu masalah.
tahapan alur:
>pengenalan/eksposisi
>pertentangn/konflik
>penanjakan
>klimaks
>penyelesaian(he/se)
bagian alur:
>situation..pengarang melukiskan kejadian
>Generation circumstance..peristiwa menunjukkn adanya gerak
>Rising Action..keadaan mulai tegang/memuncak
>Klimaks..peristiwa mncapai puncaknya/klimaks
>donouvement..pgrg mmbrkn pmchn msalah dr smw prstwa.
»»  READMORE...

Unsur - Unsur Intrinsik Cerpen

Menjelaskan Unsur-Unsur Intrinsik Cerpen
Sebagaimana novel, cerpen juga dibentuk atas unsure ekstrinsik dan intrinsik. Meskipun bentuknya pendek, bahkan ada. Yang cuma 1 halaman, di dalamnya terdapat unsur-unsur intrinsik secara lengkap, yaitu tema,amanat,tokoh, alur, latar, sudut padang pengarang,dan dialog.
Unsure – unsure intrinsic cerpen mencakup : tema, alur, latar, perwatakan, sudut pandang, dan nilai – nilai yang terkandung didalamnya.
a. Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
b. Latar . setting adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
c. Alur / plot adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita.
Alur meliputi beberapa tahap:


1. Pengantar : bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
2. Penampilan masalah : bagian yang menceritakan maslah yang dihadapi pelaku cerita.
3. Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
4. Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur – angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
5. Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
6. Perwatakan :
Menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
- Dialog tokoh
- Penjelasan tokoh
- Penggambaran fisik tokoh
7. Nilai (amanat) : pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang emalalui cerita.
Baca dan pahami cerpendibawah ini !
Percayalah Pada Niat Baikmu, Martini
Oleh: Kurniawan Lastanto
wanita itu bernama Martini. Kini ia kembali menginjakkan kakinya di lndonesa, setelah tiga tahun ia meninggalkan kampong halamannya yang berjarak tiga kilometer dari arah selatan Wonosari Gunung Kidul.
Didalam benak Martini berbaur rasa senang, rindu dan haru. Beberapa jam lagi ia akan berjumpa kembali dengan suaminya, mas Koko dan putranya Andra Mardianto, yang ketika ia tinggalkan masih berusia tiga tahun. Ia membayangkan putranya kini telah duduk dibangku sekolah dasar mengenakan seragam putih – merah dan menmpati rumahnya yang baru, yang dibangun oleh suaminya dengan uang yang ia kirimkan dari arab Saudi, Negara dimana selam ini ia bekerja.
Martini adalah seorang tenaga kerja wanita yang berhasil diantara banyak kisah mengenai tenaga kerja wanita yang nasibnya kurang beruntung di negeri manca, dimana mereka mengadu nasibnya. Tidak jarang seorang TKW pulang ketanah airnya dalam keadaan hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin yang dikandungnya. Atau disiksa, digilas dibawah setrikaan bersuhu lebih dari 110 derajat celcius, atau tiba – tiba menjadi bahan pemberitaan di media massa tanah air karena sisa hidupnya yang sudah ditentukan oleh vonis hakim untuk bersiap menghadapi tiang gantungan atau tajamnya logam pancung yang kemudian membuat kedubes RI, Deplu dan Depnaker kelimpungan dan tampak lebih sibuk.
Sangatlah beruntung bagi Martini mempunyai majikan yang sangat baik, bahkan dalam tiga tahun ia bekerja, ia telah dua kali melaksanakan umroh dengan biaya sang majikan. Majikannya adalah seorang karyawan disalah satu perusahaan minyak disana. Ia bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di El Riyadh dengan tugas khusus mengasuh putra sang majikan yang sebaya dengan Andra, putranya. Hal ini membuatnya selalu teringat putranya sendiri dan menambah semangat dalam bekerja.
Dengan cermat Martini memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabatpun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekanannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namun dengan segera ia membuang jauh – jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin suuzon dengan suaminya.
“mungkin hal ini disebabkan karena kedatanganku yang memang terlambat tiga hari dari jadwalkepulangan yang direncanakan sebelumnya,” pikirnya huznuzon.
Dan pikiran ini malah membuatnya merasa bersalah, karena ia tidak memberitahukan kedatangannya melalui telepon sebelumnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menuju terminal pulogadung dengan taksi bandara. Oleh karena ia tidak tahu dimana pool bus maju lancer terdekat dari bandara soekarno-hatta, ia berharap diterminal pulogadung ia bisa langsung menemukan bus tersebut dan membawanya ke wonosari dengan nyaman, karena badannya sekarang sudah terlalu letihuntuk perjalanan panjangyang ditempuh dari arab Saudi.
Tanpa ia sadari, martini telah sampai didepan rumahnya, rumah yang merupakan warisan ayahnya, yang ia huni bersama mas koko, andra dan ibunyayang telah renta. Namun bingung dan pertanyaan muncul dalam benaknya. Yang ia lihat hanyalah rumah tua tanpa berubahan sedikitpun, kecuali kandang sapi didekat rumahnyayang kini telah kosong. Sama keadaanya dengan tiga tahun lalutatkala ia meninggalkan rumah tersebut.
“ mana rumah baru yang mas koko bangun seperti yang ada difoto yang mas koko kirimkan tiga bulan yang lalu. Apakah ia membeli tanah ditempat lain dan membangunnya disana. Kalau begitu syukurlah,” pikirnya mencoba huznuzon.
Ia ketuk perlahan – lahanpintu rumahnya. Namun tidak ada seorangpun yang muncul membukakan pintu “kulo nuwun, mas…! Andra…! Mbok…!”
Beberapa saat kemudian barulah pintu yang terbuat dari kayu glugu tersebut terbuka.” Madosi sinten mbak?” Tanya seorang bocah berusia 6 tahun yang tak lain adalah andra yang muncul dari balik pintu.
“Andra aku ini ibumu, sudah lupa ya. Apakah bapakmu tidak menceritakan ihwal kedatanganku?” ucap martini balik bertanya.
“Ayah? Kedatanagn ibu? Oh mari masuk. Sebentar ya, andra bangunkan mbah dulu,” ujar Andra sambil berlari menuju kearah kamar neneknya.
Martini masuk kedalam rumah dan duduk diatas amben yang terletak disudut ruangan depan, seraya memperhatikan keadaan didalam rumah yang ia huni sejak kecil tersebut. Keadaan dalam rumahpun tidak tampak ada perubahan yang berarti.
“Martini ya. Wah – wah anakku sudah datangdari perantauan,” terdengar suara tua khas ibu martini sedang setengah berlari keluar dari kamarnya, menyambut kedatangan anaknya, diikuti oleh andra , membawakan segelas the hangat.
“bagaimana keadaan simbok disini?”, Tanya martini.
“oh, anakku simbok di sini baik – baik saja, kamu sendiri bagaimana, tini?” “saya baik – baik saja mbok, ngomong – ngomong mas koko dimana mbok?” Tanya martini. Mendengar pertanyaan itu, tiba – tiba air muka ibu martini berubah, ia tampak berpikir – piker sejenak.
“ oh mengenai suamimu, nanti akan simbok ceritakan, sebaiknya kamu ngaso dulu. Kau pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh. Jangan lupa the hangatnya diminum dulu,” saran ibu martini.
Martini menurut saja apa yang dikatakan ibunya. Setelah menikmati segelas the hangat, ia mengangkat kaki dan tiduran di atas amben. Namun tetap saja ia tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tetap melayang memikirkan suaminya ; dimana dia, apakah dia merantau ke Jakarta untuk turut mencari nafkah diperantauan, dimana letak rumah barunya, atau apakah mas koko malah meninggalkan dirinya dan menikah dengan wanita lain?”
“ah tidak mungkin,” pikirnya kembali berusaha untuk tetap huznuzon.
Ia mencoba bangkit lalu menemui ibunya yang sedang memasak dipawon.
“maaf Mbok, dimana mas koko, tini sudah kangen dan ingin berbicara dengannya,” ujar martini membuka kembali percakapan. Ibu martini tampak kembali berfikir sejenak, lalu berdiri dan mengambil segelas air putih dingin dari kendi.
“ minumlah air putih ini agar kamu lebih tenang, Tini, nanti simbok ceritakan di mana suamimu berada, kalau kamu memang sudah tidak sabar.”
Sementara itu martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya.
“ tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya didusun sebelah sana, namun sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan andra bersama simbok. Tentu saja simbok marah besar kepadanya. Namum apa daya, simbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang simbok pegangpun pas – pasan. Mau mengirim surat kepadamu simbok tidak bisa, kamu tahukan simbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu – satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa simbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, andra masih kelas 1 SD”.
Mendengar penuturan ibunya, martini langsuung menangis, ia sedih marah dan kalut.
“mengapa simbok tidak melaporkannya ke pak kadus dan pak kades, dan beliaupun sudah berjanji untuk membantu simbok. Namun sampai saat ini simbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya , tampak tak peduli denagn suara – suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, simbok tidak berfikir sampai kesitu, maafkan simbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
“Duh Gusti...., paringono sabar...,." terdengar Martini terisak, berusaha untuk tetap ingat kepada Yang Maha Kuasa. Bagaimana bisa, suami yang egitu ia cintai dan ia percaya, dapat berbuat begitu kejam terhadapnya. Apalagi ia sekarang tinggal bersama istri barunya, di rumah hasil jerih payahnya selama tiga tahun merantau di Arab Saudi.
"Mbok, di mana rumah baru itu berada?”
wajah ibunya terlihat ketakutan, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan anaknya dalam keadaan kalut di sana apabila ia tahu letak rumah tersebut.
"Mbok,d i mana Mbok,” Suara Martini semakin tinggi, namun ibunya tetap diam.
,”Kenapa simbok tidak mau membertihu. Apakah Simbok merestuiny?_Apakah simbok mendukungnya? Apakah Simbok membela bajingan itu dari pada saya anakmu sendiri? Apakah.....”
“Diam Tini, teganya kamu menuduh ibumu seperti itu. Kamu mau menjadi anak durhaka? Ingatlah kamu kepada Tuhan,Nak, ingatlah kepada Gusti Allah,N ak"
Kalimat itu muncul dari mulut ibunya, yang kemudian terduduk menangis mendengar ucapan pedas anaknya tersebut.
“ya sudah kalau Simbok tidak mau memberitahu. Tini akan cari sendiri rumah itu,” teriak Martini seraya meninggalkan ibunya yang sangat bersedih, yang berusaha mengejarnya namun kemudian jatuh tersungkur di halam depan rumahnya karena tidak mampu lagi mengeiarnya.
“Hei , mana Koko, bajingan sialan,"teriak Martini sambil berjalan membabi buta, m enyusuri jalan dengan muka merah Padam.
Pikrannya kacau balau.
“Buat apa aku bekerja jauh-jauh mencari uang di Arab Saudi demi kamu dan.Andra tetapi mengapa kau tega memanfaatkanku, menggunakan uangku untuk membuat rumah dan tinggal di sana bersama istri barumu,
Kurang apa aku?”
Mendengar teriakan Martini, kontan para tetangga di sekitar situ segera berhamburan ke luar rumah. Mereka kebingungan menyaksikan ulah Tini yang sudah tidak mereka lihat selama tiga tahun, tiba – tiba muncul kembali di dusun itu dengan tingkah laku yang berubah 180o. Martini yang dulunya lembut, penurut, kini kasar dan beringasan. Apakah ia telah gila? Apakah yang telah terjadi terhadap dirinya di Arab saudi? Apakah ia
Dianiaya sebagaimana sering terdengar berita di media massa mengenai TKW yang disiksa?.
Namun kemudian mereka segera menyadari. Hal ini pasti karena Martini telah mengetahui perbuatan suaminya. Segera saja mereka mengejar dan mencoba menenangkan Martini. Namun dengan kuat Martini mencoba melepaskan tangannya dari dekapan tetangganva itu. Dan saat itu pula ia melihat suaminya, ya Koko bajingan itu, keluar dari rumahnya. Koko tampaknya tidak menghiraukan kedatangannya. Bahkan istri barunya itu
terlihat dengan mesranya berdiri disamping koko yang meletakkan keduavtangannya dipinggang koko.
,,” hei, siapa kamu. Tini ya. Kenapa kamu kesini? Ini rumahku bersama mas koko. Bukannya kamu sudah mati, kalau belum mendingan kamu mati saja sekarang. Itu lebih baik, dari pada mau merusak kebahagiaan kami. Bukan begitu mas koko?” ujar wanita yang ada disebelah koko sambil mengalungkan tangan kanannya dileher koko dengan lembutnya.
Hal ini jelas membuat tini makin marah.
“hai , dasar kau, wanita murahan, tidak tahu diri. Koko adalah suamiku. Dan kau koko, mengapa kau tega menipuku, meninggalkanku hanya untuk menikahi wanita keparat ini. Dasar bajingan.”
Dekapan tetangga yang memegang Martini akhirnya lepas. Dengan cepat Martini meraih sebuah bamboo yang tergeletak di bawah pohon nangka dan berlari menuju kearah koko dan istri barunya. Dengan tidak hati-hati ia menaiki anak tangga yang menuju kedalam rumah baru itu. Secepat kilat ia mengayunkanbambu itu ke arah mereka berdua. Namun malang, belum sampai bamboo itu mengenai sasaran, ia kehilangan keseimbangan. Ia terpeleset dari dua anak tangga dan jatuh terjerembab tak sadarkan diri.
”Mbak – Mbak bangun Mbak. Mau turun di mana Mbak. Ini sudah sampai di wonosari," terdengar sayup-sayup suara pemuda yang duduk di dekat Martini.
"Astaghiirullaahaladzlm .Ha...apa...?.. W onosari," Tanya M artini.
“ Ya Mbak sepertinya dari tadi Mbak gelisah tidurnya" ujar pemuda itu
”Apakah benar ini wonosari?" Tanya Martini memastikan seraya mengarahkan pandangannya keluar jendela.
Ya ini adalah daerah yang telah tiga tahun ia tinggalkan.
"Alhamdulillah ya. ,Allah terima kasih," batin Martini bahagia.

Aktivitas Diri
1. Bagaimana kelas sosisal dan keadaaan ekonomi tokoh cerita diatas?
2. Apakah tokoh cerita memiliki etos kerja untuk mengubah nasib? Buktikan!
3. Sebutkan perilaku martini dalam cerpendiatas?
4. Apakah tokoh dalamcerpen di atas terdapat dalam kehidupan saat ini?
5. Tuliskan tema cerpen diatas ?

Uii Teori
1. Apakah yang dimaksud dengan cerpen?
2. Apakah perbedaan cerpen dengan novel?
3. Samakah unsur-unsur intrinsic yang membangun cerpen dan novel?
4. Sebutkan unsur-unsur intrinsic yang membangun cerpen?
»»  READMORE...

Sabtu, 19 Maret 2011

bahasa indonesia XI

D. Fakta dan Opini
Fakta adalah hal yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada, terjadi dan ada buktinya. Misalnya : ada benda, orang, waktu, tempat, peristiwa, jumlahnya, atau dapat menjawab pertayaan dengan kata Tanya apa, siapa, kapan, di mana, atau berapa.
Contoh : “Tirakatan Budaya” adalah acara yang diadakan oleh para seniman dan budayawan menjelang detik pergantian abad-20, di Kompleks Taman Budaya Jawa Tengah, Solo 12 Desember 2000.
Contoh tersebut dapat menjawab pertayaan apa, siapa, kapan, dan dimana.
Opini, ialah pendapat, pikiran, atau pendirian seseorang tetang sesuatu atau dapat menjawab pertayaan bagaimana.
Contoh : “Bagus sekali isi puisi yang disampaikan W.S.Rendra pada acara “Tirakatan Budaya” itu.
Contoh : tersebut menjawab pertayaan bagaimana.

E. Karangan Fiksi dan Nonfiksi
1. Karangan Fiksi yaitu karangan yang berisi kisahan atau cerita yang dibuat berdasarkan khayalan atau imajinasi pengarang. Fiksi atau cerita rekaan biasanya berbentuk novel, dan cerita pendek (cerpen). Fiksi ilmiah fiksi ilmu pengetahuan adalah fiksi yang ditulis berdasarkan ilmu pengetahuan, teori, atau spekulasi ilmiah.
Karangan fiksi berusaha menghidupkan perasaan atau menggugah emosi pembacanya. Itulah sebabnya, tulisan ini lebih dipengaruhi oleh subjektifitas pengarangnya.
Bahasa tulisan fiksi selain bermakna denoktatif juga konotatif, dan asosiatif yaitu makna tidak sebenarnya. Selain itu juga bermakna ekspresif yaitu membanyangkan suasana pribadi pengarang. Bahasa tulisan fiksi juga sugestif yaitu bersifat mempengaruhi pembaca dan plastis yaitu bersifat indah untuk menggugah perasaan pembaca.
2. Karangan nonfiktif yaitu karangan yang dibuat berdasarkan fakta, realita, atau hal-hal yang benar-benar dan terjadi dalam keidupan kita sehari-hari. Tulisan nonfiktif biasanya berbentuk tulisan ilmiah dan ilmiah populer, laporan, artikel, feature, skripsi, tesis, desertasi, makalah, dan sebagainya.
Karangan nonfiktif berusaha mencapai taraf objektifitas yang tinggi, berusaha menarik, dan menggugah nalar (pikiran) pembaca.
Bahasa karangan nonfiktif bersifat denotative dan menunjukan pada pengertian yang sudah terbatas sehingga tidak bermakna ganda.




F. Karangan Narasi, Deskripsi, Eksposisi, Argumentasi, dan Persuasi
1. Narasi
Narasi adalah jenis karangan yang bertujuan untuk menceritakan suatu pokok persoalan atau peristiwa dalam narasi :
Ø Biasanya disampaikan secara kronologis dan mengandung plot atau rangkaian cerita.
Ø Di dalam ada tokoh yang di ceritakan, baik manusia maupun bukan manusia.
2. Deskripsi atau Lukisan
Ø bersifat informative
Ø tulisan di dasarkan atas pengamatan
Ø pembaca diajak menikmati apa yang telah dinikmati (meiru kesan) penulis
Ø susunan peristiwa tidak menjadi utama, yang penting pesan sampai kepada pembaca.
3. Eksposisi atau paparan
Eksposisi adalah jenis karangan yang bertujuan menerangkan suatu pokok masalah/pikiran yang dapat memperluas pengetahuan seseorang/pembaca. Untuk mempertegas masalah yang disampaikan biasanya dilengkapi dengan dat-data kesaksia, seperti gambar, grafik, statistic, dan sebagainya. Jika dalam deskripsi kesan subjektif pengarang tampak lebih menonjol, dalam eksposisi tidak.
4. Argumentasi
Argumentasi adalah jenis karangan yang berisi ide/gagasan yang dilengkapi bukti-bukti kesaksian yang dijalin menurut proses penalar yang kritis dan logis, dengan tujuan mempengaruhi atau menyakinkan pembaca untuk menyatakan persetujuannya. Jika dalam eksposisi penutup karangan berupa penegas, dalam argumentasi penutup karangan berupa simpulan.
5. Persuasi
Persuasi adalah karangan yang disampaikan dengan cara-cara tertentu, bersifat ringkas,menarik dan mempengaruhi secara kuat kepada pembaca sehingga si pembaca terhanyut oleh siratan isinya.

G. Tema dan Judul Karangan
1. Tema merupakan masalah, persoalan, gagasan, pikiran, atau ide utama, yang dikembangkan dalam tulisan. Tema harus ditentukan sebelum menulis. Dengan demikian tema menjiwai seluruh tulisan.
2. Judul bukan merupakan masalah pokok atau ide karangan. Judul hanyalah sekedar nama karangan. Istilah lainnya adalah kepala karangan. Judul tidak harus ditetapkan sebelum menulis, tetapi dapat ditentukan setelah karangannya selesai. Jika tema bersifat mengikat, judul bersifat bebas. Akan tetapi, yang perlu diingat bahwa judul sebaiknya berhubungan dengan tema. Syarat umum secara umum adalah singkat, jelas, menarik, dan mebanyangkan isi karangan.


Contoh :
Komposisi
Filsafat Ilmu
Panduan Menulis Surat Lengkap
Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia
Yang harus diperhatikan dalam penulisan judul yaitu judul haurs ditulis mengacu pada EYD (menggunakan huruf kapital sebagai huruf pertama semua kata, termasuk semua unsure kata ulang sempurna, kecuali kata seperti di, dari, dan, yang, untuk, yang tidak terletak pada posisi awal). Judul tidak boleh diakhir.


H. Membuat dan Menjawab Pertanyaan
Untuk mengetahui pengetahuan seseorang tehadap isi bacaan yang dibacanya, perlu adanya pertanyaan yang berhubungan dengan topik bacaan dan jawaban dari pembaca teks mengenai topik dari bacaan itu. Dalam membuat pertanyaan dari suatu bacaan kata yang umum digunakan adalah apa (menanyakan benda), siapa (menanyakan orang), mengapa (menanyakan sebab), dimana (menanyakan waktu), dan bagaimana (menanyakan cara, hal, keadaan, dan sebagainya).
Dalam hal menjawab, suatu pertayaan, pembaca harus menggunakan kaliamt yang sempurna, singkat, padat, jelas, dan berhubungan dengan isiatau hal yang ditanyakan.
Contoh :

PRINSIP KEGIATAN MENARIK DALAM PRAMUKA
Dalam dunia kepramukaan kegiatan yang paling menarik disebut games. Istilah ini tidak semata-mata melakukan ‘permainan’, melainkan melakukan kegiatan yang bermanfaat baik fisik maupun psikis. Kegiatan ini memiliki kegunaan bermacam-macam. Misalnya : untuk mengisi waktu luang (main kartu, catur, halma, dan lain-lain). Untuk rekreasi (mengisi teka-teki, tebak-tebakan, dan mencari jejak), untuk menyalurkan tenaga (tairk tambang, lomba lari, bermain sepak bola atau olahraga lainnya), dan untuk pelaithan persiapan hidup mandiri (kemah, naik gunung, treveling, dan lain sebagainya).
Kegiatan menarik sangat diperlukan dalm perkembangan hidup manusia. Ahli-ahli pendidikan berpendapat, pendidikan akan lebih cepat berhasil jika diselenggarakan dalam bentuk kegiatan yang menarik dan mengandung nilai-nilai pendidikan (education games). Atas dasar pemikiran itulah, gerakan pramuka banyak menggunakan kegiatan menarik yang mengandung nilai pendidikan.kegiatan itu dipilih mengingat kepramukaan merupakan pendidikan di luar sekolah dan dilaksanakan di luar gedung sekolah (di halaman, alam bebas, dan di dalam suasana kegembiraan serta lepas dari keformalitasan).
Kegiatan menarik dalam kepramukaan befungsi untuk mengembangkan pribadi, sikap bermasyarakat, dan semangat pembangunan. Kegiatan menarik dalam kepramukaan bertujuan untuk mengembangkan kesehatan fisik dan kesempurnaan jiwa, kepribadi, dan watak.
Dikuitp dengan perubahan redaksi dari
Kamus pembina pramuka mahir tingkat
Dasar : (lemcadika)


Pertanyaan :
Apakah perbedaan pendidikan formal dan pendidikan informal?
Mengapa istilah games dalam kegiatan pramuka tidak hanya sekedar permainan?

Jawaban :
Pendidikan formal adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah secara formal (resmi) dan mengikuti tata aturan yang telah di buat pemerintah atau instansi terkait. Sedangkan pendidikan informal adlah pendidikan di luar seolah dan di laksanakan di luar gedung sekolah (di halaman, alam bebas, dan di dalam suasana kegembiraan serta lepas dari keformalitasan).
Istilah games dalam kegiatan kepramukaan tidak semata-mata melakuakan ‘permainan’ melainkan melakukan kegiatan yang bermanfaat baik fisik maupun psikis. Kegiatan ini memiliki kegunaan bermacam-macam, misalnya untuk mengisi waktu luang, unutk rekreasi, menyalurkan tenaga, dan pelatihan persiapan hidup mandiri.

I. Kerangka Karangan
Kerangka karangan adalah miniatur bentuk karangan. Kerangka karangan dapat membantu penulis unutk melihat wujud-wujud gagasan dalam sekilas sehingga dapat diketahui kesatuan idenya sudah sistematik atau belum.
Penyusunan kerangka karangan bermanfaat :
1. memudahkan menyusun karangan
2. memudahkan mencari/menentukan bahan
3. menghindari uraian yang menyimoang dari tema
»»  READMORE...